August 2020

Sosok-Muka-Hitam-Bertanduk-Penunggu-Museum-Taman-Prasasti Sosok-Muka-Hitam-Bertanduk-Penunggu-Museum-Taman-Prasasti

museumsejarah – Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda yang berada di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mulai dari peti jenazah Presiden pertama RI, Soekarno, sampai patung bernuansa Eropa ada di dalamnya.

Meski banyak bercerita tentang sejarah masa lalu lewat makam dan patung, Museum Prasasti juga dikenal dengan keangkerannya.

Suasana kelabu dan haru terasa ketika pertama masuk ke area Museum Prasasti dengan daun berguguran menyambut kehadiran pengunjung yang datang.

Seorang petugas keamanan di area parkir Gedung Auditorium KONI Jakarta Pusat yang letaknya bersebelahan dengan Museum Prasasti bernama Akbar memberikan kesaksian soal cerita mistis yang ada di area tersebut.

Dikatakannya ada banyak hal ganjil menakutkan yang dialami banyak orang di area tersebut.

Sosok-Muka-Hitam-Bertanduk-Penunggu-Museum-Taman-Prasasti

“Di sini banyak cerita-cerita seremnya. Di pojok [arah belakang makam yang berbatasan dengan Kantor Walikota Jakarta Pusat] kalau yang bisa lihat ada sesosok makhluk ada tanduknya, wajahnya hitam dan rambutnya panjang,” kata Akbar sambil menunjukkan lokasi yang dimaksud.

Secara kasat mata, tidak terlihat apapun sosok yang dianggap menakutkan. Lampu taman yang sedikit redup masih nyaman untuk menemani perjalanan. Namun, bulu kuduk langsung berdiri ketika Akbar menunjukkan lokasi yang dimaksud.

“Namanya kan ini pemakaman Belanda. Banyak yang sekarang dipindah ke Kampung Pulo karena di sini lokasinya sudah dibangun gedung-gedung,” jelas Akbar.

Museum Prasasti awalnya merupakan pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober yang dibangun tahun 1795.

Pemakaman umum ini dibuat untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang menjadi Museum Wayang.

Pada 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dialihfungsikan menjadi museum oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan dibuka untuk umum dengan nama Museum Prasasti.

Di dalam museum ini menyimpan berbagai koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.

Luas museum mengalami penyusutan dari 5,5 ha menjadi 1,3 ha akibat perkembangan kota. Tanah yang dulunya pemakaman, oleh Pemerintah Daerah (Pemda) kini disulap menjadi Gedung KONI Jakarta Pusat dan Gedung Walikota Jakarta Pusat.

Baca Juga : Sejarah Museum Wayang Jakarta Beserta Koleksinya

Museum ini mengoleksi prasasti nisan kuno dengan patung-patung bernuansa Eropa di dalamnya.

Patung-patung tersebut menjadi sebuah karya seni masa lalu yang menunjukkan kepiawaian para pematung, pemahat, kaligrafer dan sastrawan dalam mengungkapkan kesedihannya atas sebuah rasa kehilangan.

Kebanyakan penghuni makam tersebut adalah orang Belanda, termasuk beberapa tokoh yang punya peran penting di zaman VOC.

Mulai dari tokoh militer Belanda, A.V Michiels dan J.H.R Kohler, Olivia Marianne Raffles yang merupakan isteri dari Thomas Stamford Raffles mantan gubernur Hindia Belanda.

Selain itu, Museum Prasasti juga terkenal dengan kisah Kapten Jas yang makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan dan kebahagiaan.

Nisan aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an, Soe Hok Gie juga tersimpan di area Museum Prasasti.

Tak hanya itu, di area pintu masuk juga terdapat dua peti jenazah yang berada di atas kereta kencana yang diketahui milik Presiden R1 pertama, Soekarno dan wakilnya, Mohammad Hatta.

Ketimbang memikirkan cerita angker yang ada di dalamnya, Museum Prasasti bisa menjadi bagian dari situs berharga untuk belajar dan mengetahui sejarah masa lalu.

Sejarah-Museum-Wayang-Jakarta-Beserta-Koleksinya.jpg Sejarah-Museum-Wayang-Jakarta-Beserta-Koleksinya.jpg

museumsejarah – Museum saat ini menjadi salah satu tempat wisata pilihan bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan. Selain menjadi tempat liburan pergi wisata ke museum dapat menambah wawasan, terlebih lagi museum memiliki nilai historis terkait sejarah tertentu. Salah satu Sejarah Museum Jakarta yang sering dikunjungi oleh masyarakat adalah museum wayang. Museum wayang merupakan salah satu museum yang memiliki lokasi strategis. Berada di lokasi tengah kota merupakan salah satu daya Tarik museum ini sehingga banyak masyarakat mudah mengakses lokasinya. Museum ini mengoleksi banyak benda bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Berikut ini adalah beberapa info yang bermanfaat sebelum mengunjungi museum ini, mungkin dapat menambah pengetahuan anda terkait dengan museum wayang ini.

Sejarah Museum Wayang Jakarta

Dahulu kala museum ini merupakan bangunan gereja tua yang dibangun oleh pemerintahan belanda pada tahun 1640. Bangunan ini sempat mengalami kerusakan dikarenakan bencana alam gempa dan juga sempat berganti – ganti nama. Hingga akhirnya pada tahun 1936 bangunan ini ditetapkan sebagai monument oleh lembaga independent yang memiliki tujuan untuk memajukan seni dan ilmu pengetahuan dalam bidang bidang ilmu biologi,fisika,arkeolog, kesusastraan, etnologi dan sejarah serta menerbitkan hasil penelitian. Museum Batavia yang dibuka secara resmi pada 22 Desember 1939 oleh Jonkheer Meester Aldius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer, yang adalah Gubernur Jenderal Belanda yang terakhir.

Museum Wayang Jakarta berlokasi di deretan bangunan tua yang berada di sekitar Taman Fatahillah, detail alamatnya ada di Jl. Pintu Besar Utara 27, wilayah Kota Tua, Jakarta Barat, Dimana hanya berjarak beberapa meter dari Sejarah Museum Kota Tua. Museum ini mengoleksi beberapa macam jenis wayang baik jenis wayang domestik maupung wayan atau boneka dari manca negara. Dengan mengunjungi museum ini akan membawa manfaat yaitu mengenal dan melihat beberapa koleksi wayang kulit, wayang golek, koleksi wayang dan boneka dari manca Negara tetangga seperti seperti India, Cina, Belanda Malaysia, Thailand, Suriname, Vietnam, dan Kamboja, termasuk juga koleksi alat musik tradisional seperti gamelan. Selain itu pula juga terdapat kesenian lain seperti lukisan wayang.

Perkembangan Museum Wayang

Museum yang dahulunya merupakan halaman gereja tua saat ini telah berubah menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang. Di dalam museum ini terdapat taman taman kecil dengan prasasti sebanyak 9 (sembilan) buah. disetiap prasasti tersebut mencerimankan pejabat – pejabat Belanda yang dimakamkan di halaman gereja. Salah satu prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, yang merupakan seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan Prabu Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Sejarah Kerajaan Banten.

Baca Juga : 7 Museum Bersejarah di Indonesia

Pada Tahun 1975 tepatnya di tanggal 13 Agustus Museum Wayang diresmikan oleh Gubernur Jakarta yaitu Bapak Ali Sadikin. Dimana Area museum mengalami beberapa perpindahan lokasi , yang sebelumnya terletak di sisi Timur Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) ke sisi Barat. walaupun museum wayang menempati gedung tua yang usianya sudah ratusan tahun, tampilan interior museum mengalami banyak modernisasi untuk menepis beberpa kesan suram di masyarakat dan terutama dapat lebih menarik minat pengunjung untuk datang ke museum wayang ini. Dari waktu ke waktu Museum Wayang terlihat melakukan ekspansi ke gedung disebelahnya. dapat dilihat bangunannya dengan desain yang modern. Gedung ini juga dilengkapi dengan lift untuk memudahkan kaum difabel atau orang lanjut usia mobilisasi di dalam gedung.

Koleksi di Museum Wayang

Koleksi Wayang di dalam Sejarah Museum Wayang Jakarta ini terdiri dari beberapa Wayang Kulit, Wayang Golek, topeng, wayang kaca, wayang seng, lukisan dan boneka-boneka dari manca negara seperti seperti India, Cina, Belanda Malaysia, Thailand, Suriname, Vietnam, dan Kamboja. selain itu juga terdapat koleksi alat musik tradisional seperti gamelan. Hingga saat ini, museum wayang memiliki koleksi lebih dari 5.000 buah wayang, dari koleksi – koleksi tersebut banyak terdapat koleksi wayang dalam negeri yang sangat menarik yaitu diantaranya :

Wayang Kulit Betawi

Beberapa koleksi wayang kulit betawi terdapat tokoh lakon seperti hanoman dan gatot kaca. Lakon hanoman juga disebut sebagai Anoman, salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Anoman merupakan salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, Dia adalah seekor kera putih dan putra Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa.

Sementara untuk lakon Gatot kaca merupakan seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata, putra Bimasena atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Tokoh ini memiliki julukan”otot kawat tulang besi” karena Kesaktiannya yang luar biasa, yaitu antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap. Di masyarakat, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer dan banyak dikenal di kalangan umum.

Wayang Kulit Surakarta

Salah satu koleksi wayang kulit surakarta yang ada di museum wayang adalah lakon Bima Sena. Bima Sena adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabarata. Bima sena memiliki sifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuhnya, dia juga merupakan putra Kunti, dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat.

Wayang Kulit Palembang

Untuk lakon wayang kulit palembang yang menjadi koleksi di museum ini adalah lakon Baladewa. Baladewa merupakan saudara dari Prabu Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura. koleksi – koleksi tersebut berada tersebar di beberapa koridor gedung museum wayang. seperti di lantai dua gedung ini terdapat banyak koleksi wayang golek, yaitu wayang tiga dimensi yang berasal dari tanah parahyangan. untuk lantai bawah sebelum menaiki tangga terdapat koleksi wayang revolusi yang figur-figurnya terbagi antara figur pribumi, figur bangsa Jepang, dan figur bangsa kulit putih.

Ada juga figur-figur yang terkenal yang dijadikan wayang, seperti misalnya Soekarno dan Si Pitung. Wayang ini tentunya digunakan untuk mendorong rasa nasionalisme dan membakar semangat para penontonnya. sementara itu di jalan menurun ke arah lantai satu terdapat lorong loorng yang dindingnya digunakan untuk menyimpan berbagai koleksi wayang, topeng, dan lukisan wayang dengan media kaca. Untuk membawa cinderamata bagi keluarga, sebelum menuju pintu keluar, ada toko cinderamata yang menjual berbagai jenis pajangan wayang golek dan wayang kulit. Harganya sangat kompetitif dengan range paling murah mungkin gantungan kunci dan pembatas buku berbentuk wayang kulit berukuran kecil.

Jam Operasional Museum Wayang

Untuk mengunjungi Sejarah Museum Wayang Jakarta ini bisa dilakukan pada hari Selasa sampai hari Minggu. Seperti pada umumnya untuk hari Senin adalah hari kramat bagi museum untuk tutup, begitu pula dengan hari raya tutup. Untuk jam buka Museum mulai dari pkl 09.00 – 15.00 WIB. dan Harga tiket masuknya cukup terjangkau yaitu Rp 5.000,00 untuk pengunjung dari dalam maupun mancanegara. Untuk menuju ke museum wayang, bisa menggunakan transportasi massal seperti KRL atau TransJakarta menuju Jakarta Kota. Dari halte TransJakarta atau Stasiun Jakarta Kota dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju arah kawasan Kota Tua Jakarta.

Semoga dengan informasi Sejarah Museum Wayang Jakarta bisa memudahkan untuk referensi terkait dengan museum wayang jakarta. Ayo budayakan ke museum untuk meningkatkan dan menambah info pengetahuan. dengan budget yang bisa dibilang murah kegiatan ini juga bisa menyenangkan buat buah hati anda.

 

7-Museum-Bersejarah-di-Indonesia 7-Museum-Bersejarah-di-Indonesia

museumsejarah – Sekali-sekali, tidak ada salahnya jika kamu merencanakan liburan yang berbeda dari biasanya seperti mengunjungi museum-museum bersejarah di Indonesia. Museum tidak selalu membosankan loh, selain menambah wawasan kamu juga bisa belajar lebih banyak tentang sejarah, budaya dan seni bangsa Indonesia. Nah jika kamu belum tahu museum mana saja yang menarik untuk dikunjungi, mari simak artikel berikut.

1. Museum Nasional Indonesia

museum-nasional

Museum Nasional Indonesia berlokasi di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, nama lain museum ini adalah Museum Gajah karena keberadaan patung gajah perunggu pemberian Raja Chulalongkom dari Thailand di depan gedung. Selain patung gajah, di halaman museum juga terdapat beberapa meriam kuno yang tertata rapi. Museum ini diklaim sebagai museum terbesar di Asia Tenggara dan memiliki koleksi terlengkap di Indonesia. Kamu bisa melihat koleksi arca kuno, prasasti, barang kerajinan, galeri tekstil, miniatur Rumah Adat dan masih banyak lagi. Tiket masuk ke museum ini hanya Rp 5000 (untuk dewasa) dan Rp 2000 (untuk anak-anak), terjangkau sekali kan? Jadi kamu tidak perlu ragu lagi untuk berkunjung ke museum yang satu ini.

2. Museum Geologi Bandung

museum-geologi-bandung

Museum Geologi ini beralamat di Jl. Diponegoro 57, Bandung. Bagi kamu pecinta alam, museum ini sangat tepat untuk dikunjungi saat liburan karena koleksi bebatuan, fosil, dan mineral yang lengkap dihadirkan untuk para pengunjungnya. Di museum ini kamu juga dapat belajar banyak hal yang berhubungan dengan bencana alam, bumi, pemanfaatan sumber daya, cara mengolah energi dan banyak lainnya. Harga tiket masuk Museum Geologi hanya Rp 2000 untuk pelajar, Rp 3000 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000 untuk wisatawan asing. Kapan lagi kamu bisa mendapatkan banyak ilmu dengan harga semurah itu?

Baca Juga : MUSEUM BANK INDONESIA

3. Museum Konferensi Asia Afrika

museum-kaa

Museum KAA ini terletak di Jl. Asia Afrika No. 65, Bandung. Gedung museum ini adalah bagian dari gedung Merdeka dan digunakan untuk mengenang Konferensi Asia Afrika Pertama yang diadakan di Indonesia. Di museum ini kamu bisa menemukan koleksi dokumen tertulis, foto dan hal-hal lain yang berhubungan dengan konferensi tersebut. Pihak museum pun menyelenggarakan program-program edukasi menarik bagi pengunjung seperti museum keliling, bincang sore, pemutaran dan diskusi film “Bioscoop Concordia” dan banyak lainnya. Tiket masuknya GRATIS, jadi tidak ada alasan lagi kan untuk tidak mengunjungi museum ini?

4. Museum Kesenian Agung Rai (ARMA)

museum-arma

Museum kesenian ini terlekat di Jl. Pengosekan, Ubud, Bali. Museum ini cocok banget bagi kamu pencinta seni dan budaya lokal. Di sini kamu bisa menikmati visualisasi seni dalam rupa pertunjukan teater, tarian dan musik tradisional. Kamu juga bisa mengikuti kelas melukis, program pelatihan dan seminar seni. Yang paling spesial dari museum ini adalah beragam koleksi lukisan dari seniman dalam negeri dan internasional seperti Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan dan banyak lainnya. Harga tiket masuknya Rp 50.000 per orang sudah termasuk minuman yang bisa kamu nikmati di salah satu cafe di museum.

5. Museum Batik Danar Hadi

museum-batik-danar-hadi

Museum Batik Danar Hadi letaknya di kota Solo, Indonesia. Di sini kamu bisa menikmati koleksi seni batik yang lengkap mulai dari zaman sebelum dan sesudah penjajahan Belanda. Perlu kamu tahu batik yang dipamerkan bernilai seni tinggi seperti Batik Kraton, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Hokokai, Batik Indonesia, sampai Batik Sudagaran. Selain melihat-lihat koleksi batik kamu juga bisa menyaksikan proses pembuatan batik di workshop yang ada di museum. Harga tiket masuknya hanya Rp 25.000 untuk umum dan Rp 10.00 untuk pelajar.

6. Museum Sampoerna

museum-sampoerna

Museum Sampoerna letaknya di jalan Taman Sampoerna, Surabaya dan didirikan oleh Liem Seeng Tee sebagai tempat produksi pertama rokok Sampoerna. Museum ini menawarkan pengalaman dan informasi unik untuk melihat fasilitas produksi rokok tempo dulu. Bangunannya sangat mudah dikenali karena bergaya colonial dengan empat pilar besar di depan gedung utama dan termasuk salah satu situs bersejarah yang dilestarikan di Indonesia. Tiket masuknya GRATIS jadi cocok banget buat kamu yang pergi traveling dengan budget.

7. Museum Angkut Malang

Museum Angkut Malang terletak di Jl. Terusan Sultan Agung Atas Nomor 2, Kota Wisata Batu, Malang. Museum ini adalah tempat wisata pertama di Asia Tenggara yang mengusung tema alat transportasi. Di sini kamu bisa melihat aneka moda transportasi yang berasal dari berbagai zaman, seperti koleksi mobil tua dari berbagai belahan dunia, aneka kendaraan dari berbagai zaman, kereta-kereta kuno, sampai benda-benda batuan antik dari zaman purbakala. Menarik sekali bukan? Harga tiket masuknya Rp 70.000 di hari biasa dan Rp 80.000 di akhir pekan.

MUSEUM-BANK-INDONESIA MUSEUM-BANK-INDONESIA

museumsejarah – Museum Bank Indonesia menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005.

Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.

Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.

LATAR BELAKANG PENDIRIAN MUSEUM BANK INDONESIA

Bank Indonesia (BI) didirikan pada 1 Juli 1953 sebagai bank sentral, yang merupakan lembaga vital dalam kehidupan perekonomian nasional, karena kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh BI akan memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Dalam perkembangannya, masih banyak masyarakat yang tidak mengenal BI, apalagi memahami kebijakan-kebijakan yang pernah diambilnya, sehingga seringkali terjadi salah persepsi masyarakat terhadap BI dikarenakan tidak cukup tersedianya data atau informasi yang lengkap dan akurat yang dapat diakses dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat.

Pada awalnya gedung BI Kota adalah gedung dari De Javasche Bank (DJB), yang didirikan pada tahun 1828 atau 177 tahun yang lalu. Kini pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.

Dilandasi oleh keinginan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu secara objektif, Dewan Gubernur BI lalu memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Diharapkan pembangunan museum tersebut dapat menjadi pelopor dari pemugaran/ revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.

Baca  Juga : Sejarah Museum Satria Mandala

Hal inilah yang antara lain menjadi pertimbangan munculnya gagasan dibangunnya Museum Bank Indonesia, yang diharapkan menjadi suatu lembaga tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan aneka benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang BI. Selain itu, gagasan untuk mewujudkan Museum Bank Indonesia juga diilhami oleh adanya beberapa museum bank sentral di negara lain, sebagai sebuah lembaga yang menyertai keberadaan bank sentral itu sendiri.

Tujuan Pendirian Museum Bank Indonesia

Guna menunjang pengembangan kawasan kota lama sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta, maka gedung BI Kota yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dimanfaatkan menjadi Museum Bank Indonesia. Keberadaan museum ini diharapkan dapat seiring dan sejalan dalam mendorong perkembangan sektor pariwisata bersama museum-museum lain yang saat ini sudah ada di sekitarnya, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari di daerah Pasar Ikan. Museum ini juga diharapkan dapat menjadi wahana pendidikan dan penelitian bagi masyarakat Indonesia maupun internasional tentang fungsi dan tugas BI, di samping merupakan wahana rekreasi.

Museum Bank Indonesia disajikan dalam bentuk cyber museum. Dalam Cyber Museum Bank Indonesia ini diceritakan mengenai perjalanan panjang BI dalam bidang kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang dapat diikuti dari waktu ke waktu, sejak periode DJB hingga periode BI semasa berlakunya Undang-Undang No.11 tahun 1953, Undang-Undang No.13 tahun 1968, Undang-Undang No.23 tahun 1999, dan Undang-Undang No.3 tahun 2004 saat ini.

Sejarah-Museum-Satria-Mandala Sejarah-Museum-Satria-Mandala

museumsejarah – Museum Satria Mandala telah menjadi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memakan waktu yang cukup panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Perjuangan bangsa Indonesia dengan TNI sebagai intinya, berjuang secara bahu membahu dalam suasana kebersamaan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa sejarah perjuangan nasional termasuk didalam sejarah TNI mempunyai peran penting dalam meningkatkan jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Karena dengan belajar sejarah masyarakat bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan. Oleh karenanya minat prajurit dan masyarakat untuk memahami dan menempatkan kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa harus ditumbuhkembangkan.

Museum-museum, monumen, dan perpustakaan di lingkungan Pusjarah TNI, menyajikan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya sejarah perjuangan TNI dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan melalui diorama-diorama. Diantaranya diorama yang menggambarkan tentang kejayaan Nusantara dan cita-cita mempersatukan bangsa tersaji di Museum Keprajuritan Indonesia. Sedangkan diorama-diorama yang terdapat di Museum Satriamandala menggambarkan tentang sejarah kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Yang di dalamnya terdapat Gedung Waspada Purbawisesa yang menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat dalam menumpas gerombolan separatis DI/TII. Selanjutnya penyajian diorama tentang peristiwa pemberontakan G30S/PKI terhadap NKRI terdapat di Monumen Pancasila Sakti. Selain itu koleksi-koleksi sumber tertulis, seperti buku-buku dan majalah-majalah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan TNI tersedia di Perpustakaan TNI.

Melalui museum-museum, monumen, dan perpustakaan, masyarakat aan memahami perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah perjuangan TNI dan sekaligus menumbuhkan motivasi untuk meneladani semangat juang para pahlawan bangsa.

Baca Juga : Museum Terbaik Di Indonesia

RUANG SENJATA

Museum Satriamandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah.

Di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi pada tahun 60-an.

Selain diorama, dipamerkan pula dokumen, peta operasi, dan benda-benda relik lainnya. Fasilitas lain di museum ini adalah Taman Bacaan Anak, kios cenderamata, kantin, serta gedung serbaguna yang berkapasitas 600 kursi untuk berbagai kegiatan dan pertemuan.