October 2020

Museum Terbaik di Eropa Museum Terbaik di Eropa

Museum Terbaik di Eropa – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan, akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai mueseum terbaik di eropa.

Museum merupakan sebuah tempat yang pastinya menghadirkan berbagai barang unik, antik, dan bernilai sejarah tinggi yang dimana didalamnya penuh dengan sebuah seni dan cerita. Setiap museum memiliki ciri khas masing-masing yang dimana disesuaikan dengan tema dan apa yang ada didalamnya. Eropa merupakan salah satu benua yang memiliki banyak sekali museum menarik yang sangat wajib untuk dikunjungi. Berikut 10 museum terbaik di Eropa yang wajib dikunjungi saat berlibur.

1. State Hermitage Museum

Salah satu museum terbaik yang satu ini terletak di St. Petersburg, Rusia. Museum ini didirikan pertama kali pada tahun 1754 oleh Catherine the Great yang dimana baru pertama kali dibuka untuk khalayak umum pada tahun 1852. Museum ini memiliki banyak keunikan diantaranya adalah dibagi menjadi 6 bangunan yang dimana salah satu dari bangunannya yaitu Winter Palace merupakan bekas tempat tinggal dari kaisar Rusia pada jaman dahulu. Tentu ini adalah fenomena yang beda dari museum lainnya dan tentunya memiliki banyak sekali keunikan-keunikan dari bangunan museum yang megah.

State Hermitage Museum tercatat menyimpan jutaan karya seni dan juga tercatat sebagai museum dengan lukisan terbanyak di dunia. Tentu para pengunjung bisa menikmati berbagai seni disana yang sangat syarat akan cerita dan sejarah.

2. Musee d’Orsay

Musee d’Orsay merupakan museum yang berada di Paris, Perancis tepatnya di tepi sungai Seine. Museum ini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Paris. Banyak benda atau barang-barang antik, unik dan bersejarah yang ada di museum ini seperti lukisan, perabotan, dan karya seni lainnya. Banyak karya dari pelukis terkenal yang dipajang di museum ini yang dimana akan menambah kesan para pengunjung. Tentu sangat menarik dapat melihat berbagai benda atau barang yang bersejarah dan syarat akan seni di museum yang satu ini.

Musee d’Orsay merupakan salah satu museum yang paling banyak dikunjungi di Perancis dan menjadi salah satu yang terbaik di Eropa tak heran setiap tahunnya pengunjung silih berganti datang ke museum Musee d’Orsay ini.

3. Prado National Museum

Museum terbaik selanjutnya di Eropa yaitu Pradi National Museum yang terletak di ibukota Spanyol, Madrid. Bagi wisatawan yang ingin melihat berbagai catatan atau benda sejarah dari berbagai wilayah di Eropa maka museum ini adalah tempatnya. Museum ini memiliki berbagai benda bersejarah dari berbagai abad seperti lukisan, catatan sejarah, patung dan lain-lain. Tentunya museum ini sangat cocok bagi yang menyukai sejarah karena memang banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran setelah berkunjung di Prado National Museum.

Banyak hal unik, menarik dan bersejarah di museum ini yang membuatnya banyak dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai negara. Tak heran jika museum ini masuk dalam salah satu yang terbaik di Eropa.

Baca Juga:Koleksi Museum Sumpah Pemuda

4. British Museum

Dari namanya sudah dapat ditebak bahwa museum ini terletak di Inggris tepatnya di Kota London. Museum ini terkenal memiliki berbagai barang atau benda seni, bersejarah dari berbagai belahan dunia yang jumlahnya mencapai jutaan. British Museum termasuk dalam museum dengan jumlah koleksi paling lengkap di dunia tak heran jika banyak orang datang ketempat ini untuk menikmati berbagai koleksi yang ada disana. Letaknya yang berada di Kota London membuat museum ini mudah diakses dan mudah ditemukan oleh para wisatawan.

Hal yang menarik lainnya dari banyaknya koleksi seni dan sejarah yang ada, British Museum memberikan tiket gratis kepada setiap pengunjung artinya tidak akan dikenakan biaya sama sekali jika mengunjungi museum yang satu ini.

Koleksi Museum Sumpah Pemuda Koleksi Museum Sumpah Pemuda

Koleksi Museum Sumpah Pemuda – Berikut ini merupakan koleksi-koleksi benda bersejarah yang terdapat di dalam museum sumpah pemuda.

Barang – barang yang menjadi bagian dari sejarah museum Sumpah Pemuda sebagai museum khusus ini berhubungan dengan peristiwa bersejarah tersebut. Hingga tahun 2007, koleksinya secara keseluruhan bejumlah 2.867 buah, dengan koleksi utama adalah Gedung Kramat 106 itu sendiri yang menjadi tempat perencanaan dan pelaksanaan Kongres Pemuda II pada 27 – 28 Oktober 1928. Bangunan gedung terdiri dari bangunan utama yang terdiri dari serabi depan, satu ruang tamu, lima buah kamar, satu ruang terbuka atau ruangan rapat, dan paviliun yang terdiri dari dua kamar. Ruangan – ruangan dalam sejarah Museum Sumpah Pemuda yang menata koleksinya dengan kronologis peristiwa Sumpah Pemuda yaitu antara lain:

1. Ruang Pengenalan

Letak ruangan ini ada di bagian depan gedung persis di pintu masuk utamanya. Isi pameran ruangan ini adalah peta Indonesia yang menggambarkan kedudukan organisasi pemuda kedaerahan, peta Jakarta yang menunjukkan tempat – tempat kongres pemuda kedua, panitia kongres, patung dada Muhammad Yamin dan Sugondo Djojopuspito, organisasi peserta kongres dan maket gedung. Lantai ubin yang dipergunakan adalah asli berasal dari zaman Belanda.

2. Ruang Pertumbuhan Organisasi Kepemudaan

Letak ruangan dalam sejarah Museum Sumpah Pemuda ini bersebelahan dengan ruang pengenalan dan bisa dimasuki lewat pintu di sebelah kiri. Di ruangan ini digambarkan masa – masa pertumbuhan awal dari organisasi pemuda yang berawal dari Perhimpunan Indonesia di Belanda. Kegiatan beberapa pergerakan pemuda seperti Perhimpunan Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond. Perserikatan Minahasa, Jong Batak, Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia dan Kepanduan atau INPO. Juga terdapat relik dari peralatan pandu yang digunakan pada tahun 1920an.

3. Ruang Kongres Pemuda I

Ruangan yang menjadi bagian dari sejarah museum sumpah pemuda ini juga terletak bersebelahan dengan ruang pertumbuhan. Koleksi yang dipamerkan berhubungan dengan Kongres Pemuda I seperti foto – foto peserta, kegiatan, Perhimpunan Pelajar – pelajar Indonesia, Partai Nasional Indonesia, cuplikan pidato kongres pertama, dan bendera pandu merah putih dari tahun 1928.

4. Ruang Kongres Pemuda II

Terletak persis diluar ruangan kongres pertama, dalam sejarah museum sumpah pemuda koleksi ruangan ini berisi penggambaran peristiwa Kongres Pemuda Kedua seperti minirama kongres kedua, suasana di sidang ketiga kongres kedua, replika biola W.R Supratman, dan maklumat panitia kongres dan isi keputusan konges kedua. Simak juga mengenai biografi W.R Supratman.

Baca Juga :Sejarah Museum Sumpah Pemuda

5. Ruang Indonesia Muda

Disini terdapat beberapa koleksi yang dipamerkan terkait dengan pergerakan pemuda setelah ikrar Sumpah Pemuda, yaitu Vandel Indonesia Mud, foto komisi besar dari Indonesia Muda dan foto – foto kegiatannya. Ketahui juga mengenai sejarah Indische Partij, sejarah sumpah pemuda, dan sejarah bahasa Indonesia.

6. Ruang PPPI

Isi ruangan Sejarah Museum Sumpah Pemuda ini merupakan koleksi yang berhubungan dengan Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia pada waktu setelah terjadinya kongres kedua. Selain itu juga ada dipamerkan koleksi yang berhubungan dengan pergerakan pemuda yang dilakukan melalui partai politik.

7. Ruang Tematik

Area yang terdiri dari dua ruangan letaknya di paviliun Gedung Kramat 106 yang masih menjadi bagian dari sejarah dari museum sumpah pemuda dan memamerkan beberapa koleksi yang ada hubungannya dengan aktivitas pemuda di tahun 1945, 1966 dan juga di tahun 1998. Ketahui juga sejarah Bhinneka Tunggal Ika, sejarah lahirnya Pancasila dan sejarah lagu Indonesia Raya.

Sejarah Museum Sumpah Pemuda Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Sejarah Museum Sumpah Pemuda – Museum Sumpah Pemuda menjadi salah satu museum terkenal yang terletak di daerah Jakarta. Berikut ini merupakan artikel tentang sejarah museum sumpah pemuda.

Bangunan yang menjadi lokasi pembacaan naskah Sumpah Pemuda adalah rumah pondokan khusus pelajar dan mahasiswa yang hak guna bangunannya pada awalnya dipegang oleh Sie Kong Liong. Gedung milik pemerintah RI ini pernah menampung beberapa tokoh pergerakan pada perkembangan nasionalisme Indonesia seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifudin, Soegondo Djojopoespito, Setiawan, Soejadi, Mangaradja Pintor, A.K. Gani, Mohammad Tamzil dan Assaat dt Moeda. Sejak tahun 1925 gedung ini menjadi tempat tinggal para pelajar yang tergabung dalam Jong Java. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) dan mahasiswa sekolah tinggi hukum RHS. Para aktivis dari Jong Java menyewa bangunan seluas 460 meter persegi ini karena tempat kontrakan sebelumnya terlalu sempit untuk kegiatan kepanduan, diskusi masalah politik dan untuk latihan kesenian Jawa. Gedung ini kemudian disebut Langen Siswo.

Tarif sewa sebesar 12,5 gulden per bulannya, atau setara dengan sejumlah 40 liter beras pada waktu itu. Penghuninya semakin beragam sejak tahun 1926, kebanyakan adalah aktivis pemuda dari daerah. Dengan demikian kegiatan penghuninya juga semakin beragam. Para mahasiswa aktif dalam kepanduan dan olahraga, selain kesenian. Gedung ini juga dijadikan markas Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada September 1926 setelah kongres pemuda pertama. Para penghuni anggota PPPI sering mengundang Soekarno untuk diskusi.

Setiap kegiatan rapat pemuda selalu diawasi Belanda dengan ketat walaupun mereka mengakui bahwa penduduk berusia diatas 18 tahun memiliki hak untuk mengadakan perkumpulan dan rapat. Belanda bisa sewaktu – waktu melarang kegiatan rapat karena dianggap menentang pemerintah sehingga setiap pertemuan harus mendapat izin polisi lebih dulu. Rapat berada dalam pengawasan penuh Politieke Inlichtingen Dienst (PID), semacam dinas yang dikhususkan untuk intelijen poliitik.

Majalah Indonesia Raya juga muncul di gedung ini dikelola oleh PPPI. Para pemuda akhirnya menamakan gedung ini sebagai Indonesische Clubhuis karena sering dipakai untuk kegiatan pemuda nasional. Papan nama gedung bahkan dipasang di depan sejak 1927 ketika Gubernur Jenderal H.J. de Graff memerintah dengan politik dengan tangan besi.

Baca Juga :Cerita Mistis Mbah di Lubang Buaya

Para penghuni Kramat 106 pada 1934 kemudian tidak lagi melanjutkan pembayaran sewa dan mengalihkan kegiatan mereka ke Kramat 156. Gedung ini kemudian disewakan sebagai tempat tinggal sejak tahun 1937 – 1951. Kemudian gedung disewa lagi oleh Loh Jing Tjoe yang membuka toko bunga dan hotel. Inspektorat Bea dan Cukai kemudian menyewanya untuk dijadikan perkantoran pada tahun 1951 – 1970. Di tahun 1968, Sunario memiliki ide untuk mengumpulkan para pelaku sejarah Sumpah Pemuda dan memintanya kepada Gubernur DKI untuk mengelola dan mengembalikan gedung di Kramat 106 yang hak guna bangunnya berada di tangan Sie Kong Liang, namun telah habis masa berlakunya. Sunario meminta agar gedung dikembalikan ke bentuk yang semula, dan terlahir kesepakatan untuk menamakannya Gedung Sumpah Pemuda.

Pemda DKI Jakarta sempat memugar gedung Kramat 106 pada 3 April hingga 20 Mei 1973 kemudian diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Presiden Soeharto kembali meresmikan gedung ini pad 20 Mei 1974. Setelah dikelola oleh Pemda DKI, gedung ini kemudian dikelola oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.