lubang buaya

Cerita Mistis Mbah di Lubang Buaya Cerita Mistis Mbah di Lubang Buaya

Cerita Mistis Mbah di Lubang Buaya – Lubang Buaya merupakan sebuah kawasan di Pondok Gede, yang digunakan sebagai tempat pembuangan para korban G30S PKI. Tempat ini kerap kali dijadikan objek wisata horror. Saat ini, melakukan investigasi ke tempat-tempat angker lagi booming banget. Namun, Mbah sudah pernah lebih dulu melakukannya, dulu, tahun 2012. Waktu itu, Mbah ke Lubang Buaya di daerah Jakarta Timur. Ini merupakan situs sejarah penuh tragedi yang kemudian berubah jadi museum nan angker.

Awalnya sih pengin ke sana malam-malam, tapi lantaran bentrok sama peraturan, akhirnya mau tidak mau dilakukan siang hari. Meskipun begitu, bukan berarti tidak ada hal ganjil yang terjadi.
Mbah tiba di Museum Pancasila Sakti, yang berada di kawasan Lubang Buaya, saat matahari sedang naik-naiknya, sekitar jam satu siang. Gedung ini terbagi jadi dua: gedung baru dan gedung lama.
Suasana di dalamnya sepi, hanya ada beberapa orang penjaga parkir. Setelah bayar tiket masuk, Mbah memutuskan untuk menjelajah bagian luar.
Buat yang belum pernah ke sana, lokasi museum ini terbagi jadi tiga bagian. Pertama, bagian luar yang berisi prasasti dan diorama tragedi penculikan 7 jenderal pada tahun 1965, ada juga kendaraan milik jenderal dan truk pengangkut para korban, lalu sekumpulan instalasi potongan sejarah dari awal pemberontakan PKI sampai kejadian penculikan.

Dari pintu masuk, Mbah belok kiri ke arah bagian lapangan dan Lubang Buaya yang konon jadi tempat pembuangan mayat para jenderal. Ternyata saat itu, Mbah tidak sendiri. Ada beberapa rombongan anak sekolah, tapi karena tempatnya besar jadi tetap terlihat lengang. Pada bagian lapangan ini, konon kalau malam terlihat penampakan tentara tanpa kepala, baris berbaris seakan mau perang.

Rasa penasaran Mbah menguat ke arah diorama yang menceritakan bagaimana suasana interogasi para jenderal sebelum dieksekusi. Ada yang tidak beres dengan diorama ini, siang hari saja sudah telihat menyeramkan. Kadang, entah mengapa, Mbah merasa mata mereka bergerak mengintip. Konon, pada malam hari, patung-patung pada diorama ini bergerak, dan audio yang diambil dari film Pemberontakan PKI sering terdengar. Hal ini masuk akal ketika kita melihat langsung ke lokasi yang begitu tenang dan rindang oleh pohon-pohon besar, namun membuat kita merasa memasuki dunia lain.

Meski tidak bisa melihat makhluk halus, Mbah cukup sensitif dengan kehadiran mereka. Dan selama berada di sana, Mbah merasakan keberadaan mereka begitu kuat. Maklum, tempat dengan aura paling tinggi ada di lokasi tragedi nahas itu terjadi. Ya, di sanalah semuanya terjadi.

Para jenderal diikat, lalu disiksa sambil diinterogasi. Kemudian, mereka dibunuh dengan cara ditusuk bayonet atau dipukul pakai mortir hingga cedera berat dan mati kehabisan darah. Saat melihat langsung Lubang Buaya, Mbah sempat mencium bau anyir darah. Tidak terlalu lama, tapi kuat untuk menguatkan firasat ada sesuatu yang diam-diam mengikuti. Mbah berusaha untuk tenang, seperti segerombolan muda mudi yang berada dekat Mbah. Tapi ternyata kejadian selanjutnya semakin ganjil.

Dari lokasi Lubang Buaya, Mbah melanjutkan ke sebuah rumah yang diduga milik salah satu pemberontak. Rumahnya kecil, terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur kalau tidak salah, dan dapur umum yang terpisah dari rumah utama.

Mbah masuk ke sana diikuti dua orang, seorang pria dan wanita. Mereka menguntit di belakang ketika Mbah melihat-lihat ke dalam kamar dan dapur. Di bagian dapur dekat pintu keluar dan tungku tua, ada sebuah ruangan kecil dan agak gelap. Di sana, terdapat tumpukan genteng tanah liat yang konon genteng asli rumah tersebut.
Mbah melihat ke belakang, dua orang itu tersenyum. “Rumahnya kecil ya,” kata si pria. Mbah balas senyum.

Baca juga: Penampakan di Museum Prasasti 

Mbah pun jongkok untuk melihat tumpukan genteng lebih dekat, dua orang itu jalan mendahului Mbah dan melihat-lihat bale bambu yang ada di sebelah kanan ruangan. Beberapa detik kemudian, Mbah bangun dan menoleh, keduanya menghilang. Sekian detik kemudian, Mbah sadar kalau Mbah sendirian berada di sana. Ketika itu juga, tengkuk serasa ditempel es hingga membuat seluruh tubuh bergidik. Padahal, ruangannya tertutup, tidak ada pintu lain selain pintu dekat tungku tua.

Mbah panik, coba memeriksa ruang tengah, kosong. Periksa ke kamar, kosong juga. Lalu ke mana dua orang itu? Sedangkan di belakang tidak ada pintu. Lalu, Mbah mendengar suara tawa pelan dari arah dapur, yang mana kosong melompong. Berasa merinding lagi, sampai akhirnya Mbah memutuskan untuk keluar. Firasat Mbah bilang kalau mereka itu bukan manusia. Mungkin saking banyaknya makhluk halus berkeliaran, Mbah sampai lengah membedakan mana manusia, mana jadi-jadian.

Lantaran takut, Mbah memutuskan untuk pulang. Tapi kemudian Mbah menahan diri, investigasi ini belum usai. Masih ada dua gedung yang harus Mbah cek. Niatan untuk pulang akhirnya gugur, sambil berdoa, Mbah melangkahkan kaki menuju dua gedung tersebut. Entah apa lagi yang menunggu di dalam sana.