Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Sejarah Museum Sumpah Pemuda Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Sejarah Museum Sumpah Pemuda – Museum Sumpah Pemuda menjadi salah satu museum terkenal yang terletak di daerah Jakarta. Berikut ini merupakan artikel tentang sejarah museum sumpah pemuda.

Bangunan yang menjadi lokasi pembacaan naskah Sumpah Pemuda adalah rumah pondokan khusus pelajar dan mahasiswa yang hak guna bangunannya pada awalnya dipegang oleh Sie Kong Liong. Gedung milik pemerintah RI ini pernah menampung beberapa tokoh pergerakan pada perkembangan nasionalisme Indonesia seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifudin, Soegondo Djojopoespito, Setiawan, Soejadi, Mangaradja Pintor, A.K. Gani, Mohammad Tamzil dan Assaat dt Moeda. Sejak tahun 1925 gedung ini menjadi tempat tinggal para pelajar yang tergabung dalam Jong Java. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) dan mahasiswa sekolah tinggi hukum RHS. Para aktivis dari Jong Java menyewa bangunan seluas 460 meter persegi ini karena tempat kontrakan sebelumnya terlalu sempit untuk kegiatan kepanduan, diskusi masalah politik dan untuk latihan kesenian Jawa. Gedung ini kemudian disebut Langen Siswo.

Tarif sewa sebesar 12,5 gulden per bulannya, atau setara dengan sejumlah 40 liter beras pada waktu itu. Penghuninya semakin beragam sejak tahun 1926, kebanyakan adalah aktivis pemuda dari daerah. Dengan demikian kegiatan penghuninya juga semakin beragam. Para mahasiswa aktif dalam kepanduan dan olahraga, selain kesenian. Gedung ini juga dijadikan markas Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada September 1926 setelah kongres pemuda pertama. Para penghuni anggota PPPI sering mengundang Soekarno untuk diskusi.

Setiap kegiatan rapat pemuda selalu diawasi Belanda dengan ketat walaupun mereka mengakui bahwa penduduk berusia diatas 18 tahun memiliki hak untuk mengadakan perkumpulan dan rapat. Belanda bisa sewaktu – waktu melarang kegiatan rapat karena dianggap menentang pemerintah sehingga setiap pertemuan harus mendapat izin polisi lebih dulu. Rapat berada dalam pengawasan penuh Politieke Inlichtingen Dienst (PID), semacam dinas yang dikhususkan untuk intelijen poliitik.

Majalah Indonesia Raya juga muncul di gedung ini dikelola oleh PPPI. Para pemuda akhirnya menamakan gedung ini sebagai Indonesische Clubhuis karena sering dipakai untuk kegiatan pemuda nasional. Papan nama gedung bahkan dipasang di depan sejak 1927 ketika Gubernur Jenderal H.J. de Graff memerintah dengan politik dengan tangan besi.

Baca Juga :Cerita Mistis Mbah di Lubang Buaya

Para penghuni Kramat 106 pada 1934 kemudian tidak lagi melanjutkan pembayaran sewa dan mengalihkan kegiatan mereka ke Kramat 156. Gedung ini kemudian disewakan sebagai tempat tinggal sejak tahun 1937 – 1951. Kemudian gedung disewa lagi oleh Loh Jing Tjoe yang membuka toko bunga dan hotel. Inspektorat Bea dan Cukai kemudian menyewanya untuk dijadikan perkantoran pada tahun 1951 – 1970. Di tahun 1968, Sunario memiliki ide untuk mengumpulkan para pelaku sejarah Sumpah Pemuda dan memintanya kepada Gubernur DKI untuk mengelola dan mengembalikan gedung di Kramat 106 yang hak guna bangunnya berada di tangan Sie Kong Liang, namun telah habis masa berlakunya. Sunario meminta agar gedung dikembalikan ke bentuk yang semula, dan terlahir kesepakatan untuk menamakannya Gedung Sumpah Pemuda.

Pemda DKI Jakarta sempat memugar gedung Kramat 106 pada 3 April hingga 20 Mei 1973 kemudian diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Presiden Soeharto kembali meresmikan gedung ini pad 20 Mei 1974. Setelah dikelola oleh Pemda DKI, gedung ini kemudian dikelola oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.